Strukturalisme Genetik

Strukturalisme genetik adalah cabang penelitian sastra struktural yang tak murni. Penelitian strukturalisme genetik memandang karya sastra dari dua sudut yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Karya sastra tidak hanya sekedar imajinatif dan pribadi, melainkan merupakan cerminan atau rekaan budaya, suatu perwujudan pikiran tertentu saat karya dilahirkan. Studi awal dari kajian unsur intrinsik sebagai data dasarnya. Selanjutnya peneliti akan menghubungkan berbagai unsur tersebut dengan realitas masyarakat. Secara definitif strukturalisme-genetik adalah analisis struktur dengan memberikan perhatian terhadap asal usul karya. Secara ringkas berarti bahwa strukturalisme-genetik sekaligus memberikan perhatian terhadap analisis intrinsik dan ekstrinsik (Ratna,2008: 123).
Karya yang dipandang sebagai sebuah refleksi zaman, dapat mengungkapkan aspek sosial, budaya, politik, ekonomi, dan sebagainya. Peristiwa-peristiwa penting dari zamannya akan dihubungkan langsung dengan unsur-unsur intrinsik karya sastra. Strukturalisme genetik merupakan gabungan antara strukturalisme dengan marxisme. Sebagaimana strukturalisme, strukturalisme genetik, memahami segala sesuatu di dunia ini, termasuk karya sastra, sebagai sebuah struktur (Faruk, 2012:158). Strukturalisme-genetik adalah analisis yang menyatukan aspek struktur dengan unsur historis yang dialektik, sehingga karya sastra pun harus dipahami sebagai totalitas yang bermakna. Karya sastra memiliki kepaduan total yang unsur-unsur pembentuk teksnya mengandung arti (Goldman dalam Kurniawan, 2012:104). Arti karya sastra dapat dipahami dalam konteks sosial masyarakat yang melatarbelakanginya. Di sinilah strukturalisme genetik berkaitan dengan sosiologi karena pemaknaan struktur karya sastra ditempatkan dalam struktur masyarakat (Kurniawan, 2012:104).
Goldmann dalam Faruk (2010:56) menyebutkan teorinya sebagai struturalisme genetik. Artinya, ia percaya bahwa karya sastra merupakan sebuah struktur. Akan tetapi, struktur itu bukanlah sesuatu yang statis, melainkan merupakan produk dari proses sejarah yang terus berlangsung, proses strukturasi dan destrukturasi yang hidup dan dihayati oleh masyarakat karya sastra yang bersangkutan, sehingga struktur sosial yang ada di masyarakat mengalami destrukturasi pada karya sastra melalui pengarang. Teori strukturalisme genetik bermula dari tiga fundamental perilaku manusia yang merupakan hakikat hubungan manusia dengan lingkungannya. Tiga ciri itu adalah (1) adanya kecenderungan manusia menyesuaikan diri terhadap realitas lingkungannya sehingga sifat hubungan tersebut rasional dan bermakna; (2) adanya kecenderungan terhadap konsistensi menyeluruh, dan penciptaan bentuk-bentuk struktural; (3) adanya sifat dinamik, misalnya adanya kecenderungan mengubah dan mengembangkan struktur tersebut (Yasa, 2012:28). Sebagai sebuah teori, strukturalisme genetik merupakan sebuah pernyataan yang dianggap sahih mengenai kenyataan. Konsep dasar yang mencakup teori tersebut yaitu:
a. Fakta kemanusiaan: fakta kemanusiaan merupakan landasan ontologis dari strukturalisme genetik. Adapun yang dimaksud dengan fakta tersebut adalah segala hasil aktivitas atau perilaku manusia baik yang verbal maupun yang fisik, yang berusaha dipahami oleh ilmu pengetahuan. Goldmann dalam Faruk (2010:57) menganggap semua fakta kemanusiaan merupakan suatu struktur yang berarti. Yang dimaksudkannya adalah bahwa fakta-fakta itu sekaligus mempunyai struktur dan arti tertentu.

b. Subjek kolektif: dalam hal ini perlu diperhatikan adanya perbedaan antara subjek individual dan subjek kolektif. Perbedaan itu sesuai dengan perbedaan jenis fakta kemanusiaan. Subjek individual merupakan subjek fakta individual (Libidinal), sedangkan subjek kolektif merupakan subjek fakta sosial (historis).

c. Pandangan dunia: homologi, strukturasi dan struktur: Goldmann dalam Faruk (2010:64) percaya pada adanya homologi antara struktur karya sastra dengan struktur masyarakat, sebab keduanya merupakan produk dari aktivitas strukturasi yang sama. Konsep homologi ini berbeda dari konsep refleksi. Memahami karya sastra sebagai refleksi atau cerminan masyarakat berarti menganggap bahwa bangunan dunia imajiner yang tercitrakan dalam karya sastra identik dengan bangunan dunia yang terdapat di dalam kenyataan.

d. Pemahaman dan penjelasan.: pengetahuan mengenai karya sastra dengan kodrat keberadaan (ontologi) semacam itu Goldmann kemudian mengembangkan sebuah metode yang disebutkannya metode dialek. Prinsip dasar metode dialektik yang membuatnya berhubungan dengan masalah koherensi adalah pengetahuan mengenai fakta kemanusiaan yang akan tetap abstrak apabila tidak dibuat konkret dengan mengintegrasikannya ke dalam keseluruhan (Goldmann dalam Faruk, 2010:76-77).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s