Sosiologi Sastra

Secara etimilogi (asal-usul kata), sosiologi berasal dari kata “sosio” dari bahasa Yunani “sosius” yang berarti “bersama-sama”, bersatu, kawan, dan teman”, yang dalam perkembangan bearti “masyarakat”; dan “logos” yang berarti “ilmu”. Jadi sosiologi adalah ilmu mengenai masyarakat, yaitu hubungan antara manusia dengan manusia lainnya (antar manusia), yang kemudian membentuk masyarakat (Kurniawan, 2009: 103).
Roucek dan Warren mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok. Ogburn dan Nimkoff berpendapat bahwa sosiologi adalah penelitian secara ilmiah terhadap interaksi sosial dan hasilnya yaitu organisasi. Doorn dan Lammers juga berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan tentang struktur dan proses kemasyarakatan yang bersifat stabil. Sedangkan Soemardjan dan Soemardi mengatakan bahwa sosiologi atau ilmu masyarakat ialah ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial (Soekanto,2012:18)
Menurut Teeuw dalam Kurniawan (2009:20), kata “sastra” itu sepengertian dengan literature (bahasa Inggris), literatur (bahasa Jerman), litterature (bahasa Perancis) yang semuanya berasal dari bahasa latin litteratura. Kata litteratura diciptakan sebagai terjemahan dari kata Yunani grammatika: litteratura dan grammatika, yang masing-masing berdasarkan kata littera dan gramma yang berarti “huruf” (tulisan: letter). Dengan demikian, literature dan seterusnya, dalam bahasa Barat modern umumnya berarti: “segala sesuatu yang tertulis”, yaitu pemakaian bahasa dalam bentuk tertulis. Sastra juga dapat diartikan suatu produk budaya manusia yang imajinatif, mempunyai nilai estetis, dan disampaikan dengan media bahasa.
Sementara itu, kata “sastra” dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta: akar katanya adalah “sas-“, dalam kata kerja turunan yang berarti “mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, atau instruksi.” Pada akhiran “-tra”, biasanya menunjukkan pada “alat atau sarana”. Oleh karena itu, sastra dapat berarti “alat untuk mengajar, buku petunjuk, buku instruksi atau pengajaran”, misalnya, silpasastra yang berarti “buku arsitektur” atau kamasutra yang berarti “buku petunjuk mengenai bercinta”. Awalan “su-“ dalam bahasa Sansekerta berarti “baik dan indah” sehingga sustra berarti “alat untuk mengajar yang indah” (Kurniawan, 2009:20).
Berdasarkan pada pengertian tersebut, sosiologi sastra hakikatnya adalah interdisiplin antara sosiologi dengan sastra, yang menurut Ratna dalam Kurniawan (2009:3) keduanya memiliki objek yang sama, yaitu manusia dalam masyarakat. Akan tetapi, hakikat sosiologi dan sastra sangat berbeda, bahkan bertentangan secara diamental.
Adapun pengertian lain dari sosiologi sastra yang merepresentasikan hubungan interdisiplin ini, yang masuk dalam ranah sastra, mencakup: (1) pemahaman terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan aspek-aspek kemasyarakatannya; (2) pemahaman terhadap totalitas karya sastra yang disertai dengan aspek-aspek kemasyarakatan yang terkandung di dalamnya; (3) pemahaman terhadap karya sastra sekaligus hubungannya dengan masyarakat yang melatarbelakanginya; dan (4) hubungan dialek antara sastra dengan masyarakat. Dengan demikian, sosiologi sastra di sini objek kajian utamanya adalah berupa karya sastra, sedangkan sosiologi berguna sebagai ilmu untuk memahami gejala sosial yang ada dalam sastra, baik penulis, fakta sastra, maupun pembaca dalam relasi dialetiknya dengan kondisi masyarakat yang menghidupi penulis, masyarakat yang digambarkan, dan pembaca sebagai individu kolektif yang menghidupi masyarakat (Kurniawan, 2012: 5).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s