Resepsi Pembaca

Secara etimologis istilah resepsi berasal dari kata recipre yaitu dari bahasa latin atau reception dari bahasa inggris yang diartikan sebagai penerimaan atau penyambutan pembaca. Istilah resepsi sastra dalam perkembangan ilmu sastra identik dengan istilah estetika, resepsi dan resepsi pembaca, yang ketiganya merujuk pada pendekatan pembaca sebagai pemberi makna terhadap karya sastra.
Resepsi sastra dimaksudkan bagaimana ”pembaca” memberikan makna terhadap karya sastra yang dibacanya sehingga dapat memberikan reaksi atau tanggapan terhadapnya. Tanggapan itu mungkin bersifat pasif, yaitu bagaimana seorang pembaca dapat memahami karya itu, atau dapat melihat hakikat estetika yang ada di dalamnya. Atau mungkin juga bersifat aktif, yaitu bagaimana ia ”merealisasikan”-nya. Karena itu resepsi sastra mempunyai lapangan yang luas, dengan berbagai kemungkinan penggunaan (Junus, 1984:1).
Teori resepsi telah dimulai pada tahun 1960-an, jadi teori resepsi telah dimulai semenjak berkembangnya kesusatraan. Adanya resepsi pembaca ini memberikan gambaran mengenai suatu karya sastra. Karena melalui resepsi inilah akan diketahui perkembangan suatu karya sastra. Menurut Seger (1979:35) estetika resepsi secara ringkas dapat disebut sebagai suatu ajaran yang menyelidiki teks sastra dengan dasar reaksi pembaca yang riil dan mungkin terhadap suatu teks sastra. Jadi dengan menyelidiki teks sastra inilah kita akan mengetahui reaksi pembaca terhadap suatu karya sastra yang sedang berkembang di kalangan masyarakat luas.
Seperti yang telah dijelaskan pada latar belakang masalah, bahwa ada dua tokoh pelopor lahirnya estetika resepsi. Kedua tokoh tersbut adalah Hans Robert Jauss dan Wolfgang Iser. Hans Robert Jauss merupakan seorang ahli sastra dari Universitas Kontanz jerman, dengan tujuh tesis yang dibuat untuk memperkuat teori resepsi sastranya, dia diebut sebagai ahli sastra jerman yang menitik beratkan resepsi sastra sebagai bagian dari sejarah sastra. Kemudian tokoh pelopor resepsi sastra selanjutnya adalah Wolgang Iser. Apabila jauss menekankan resepsi sastra sebagai bagian dari sejarah sastra, Iser lebih menekankan resepsi sastra sebagai sebuah efek yang ditimbulkan dari karya sastra melalui resepsi sastra. (Susanto, 2012:211-217).
Dalam resepsi sastra ada anggapan bahwa ada suatu arti/makna tertentu dalam karya sastra yang muncul pada suatu masa dan lokasi tertentu. Ini disebabkan oleh adanya suatu latar belakang pemikiran tertentu pada masa itu yang menjadi pedoman bagi orang yang memahaminya. Dengan begitu, suatu karya akan punya nilai lampau dan makna kini (past significance dan present meaning). Adanya fenomena ini memungkinkan kita untuk menciptakan suatu suasana penerimaan tertentu berdasarkan ideologi tertentu, suatu penerimaan model (Junus , 1985: 122-123).
Melalui resepsi sastra inilah penulis akan tahu seberapa besar pengaruh karya sastra berupa novel inspirasi dalam kehidupan pembacanya. Resepsi sastra ini memberikan kebebasan dalam persepsi setiap pembacanya mengenai nilai-nilai mana yang akan diambil oleh pembaca setelah selesai menikmati sebuah karya sastra.
Di dalam resepsi sastra, menurut Ratna (2008: 167) resepsi dibagi menjadi dua macam yaitu resepsi secara sinkronik dan resepsi secara diakronk. Bentuk pertama meneliti karya sastra dalam hubungannya dengan pembaca sezaman. Sekelompok pembaca, misal, memberikan tanggapan baik secara sosiologis maupun psikologis terhadap sebuah novel. Bentuk yang kedua lebih rumit lagi. Hal itu dikarenakan resepsi secara diakronik melibatkan pembaca sepanjang sejarah novel tersebut dan dibutuhkan data dokumenter yang memadai.
Resepsi merupakan proses penciptaan makna, setiap pembaca memiliki hak untuk menciptakan maknanya sendiri. Dengan adanya penciptaan makna inilah akan diketahui bagaimana pengaruh karya sastra dalam kehidupan. Siegfriend J. Schmitdt (dalam Fokkema, 1996:174) berpendapat: “[Karenanya], resepsi merupakan proses menciptakan makna, yang menyadari intruksi-intruksi yang diberikan dalam penampilan linguistik teks tertentu”.
Resepsi seorang pembaca antara karya sastra novel yang satu dengan yang lainnya itu berbeda. Mereka akan menilai karya-karya tersebut dengan membandingkan apa yang mereka peroleh setelah membaca karya sastranya. Newton (1990:159) mengatakan semua pembaca membaca karya sastra dengan pengharapan tertentu setelah membandingkan dengan membaca karya-marya lain, terutama karya-karya dengan gaya yang sama. Semantara karya-karya yang mempunyai perhatian sastra kecil akan cenderung untuk menyesuaikan dengan pengharapan pembaca aslinya dan dengan begitu tetap dalam horisonnya, karya sastra akan menghalangi atau mengurangi pengharapan ini dan dengan begitu tidak dapat diakomodasikan dalam horizon itu.
Menurut Segers (dalam Pradopo: 8) adanya perbedaan tanggapan para pembaca itu disebebkan oleh apa yang disebut horizon harapan atau cakrawala harapan . setiap pembaca itu mempunyai konsep-konsep tertentu atas karya sastra disebebkan oleh pengalamannya, pendidikan sastra, dan bacaan-bacaan sastranya, kecakapan atau kemampuan pemahamannya atas norma-norma sastra dan pemahaman kehidupan.
Dengan demikian, resepsi sastra merupakan proses pemaknaan karya sastra oleh pembaca sehingga dapat mereaksi atau menanggapi karya sastra itu. Dengan perkataan lain, pengertian resepsi ialah reaksi pembaca terhadap sebuah teks. Dan peranan pembaca menjadi penting karena orientasi terhadap teks dan pembaca menjadi landasan utamanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s