Ragam Bahasa dan fungsinya

Menurut Chaer dan Leonie Agustina (2004: 11) bahasa adalah sebuah sistem. Artinya bahasa itu dibentuk dari sejumlah komponen yang berpola secara tetap dan dapat dikaidahkan. Bahasa adalah alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Keraf, 2004: 1). Sedangkan menurut Depdiknas (2008: 116) bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasi diri. Bahasa juga diartikan sebagai percakapan (perkataan) yang baik; tingkah laku yang baik; sopan santun; baik budinya.
Menurut Dardjowidjojo (2005: 16) bahasa adalah suatu sistem simbol lisan yang arbitrer yang dipakai oleh anggota suatu masyarakat bahasa untuk berkomunikasi dan berinteraksi antar sesamanya, berlandaskan pada budaya yang mereka miliki bersama.
Dari pengertian yang dikemukakan oleh beberapa pakar di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa adalah sebuah sistem simbol yang arbitrer yang digunakan oleh sekelompok anggota masyarakat untuk berinteraksi dan mengidentifikasikan diri sehingga bahasa dan manusia merupakan satu kesatuan utuh.
C. Fungsi Bahasa
Keraf (2004: 3-6) mengungkapkan bahwa bahasa memiliki empat fungsi antara lain:
1. Alat untuk Menyatakan Ekspresi Diri
Sebagai alat untuk menyatakan ekspresi diri, bahasa menyatakan secara terbuka segala sesuatu yang tersirat di dalam dada kita sekurang-kurangnya untuk memaklumkan keberadaan kita. Unsur-unsur yang mendorong ekspresi diri antara lain:
a. keinginan untuk menarik perhatian dari orang lain terhadap kita,
b. keinginan untuk membebaskan diri kita dari semua tekanan emosi.
Pada taraf permulaan, bahasa pada anak-anak sebagian berkembang sebagai alat untuk menyatakan diri sendiri. Contoh, dalam buaian seorang bayi sudah dapat menyatakan dirinya sendiri, ia memperlakukan kata-kata untuk menyatakan lapar, haus dan sebagainya. Hal itu berlangsung terus hingga seorang menjadi dewasa; keadaan hatinya, suka dukanya, semua diungkapkan dengan bahasa agar tekanan-tekanan jiwanya dapat tersalur.
2. Alat Komunikasi
Dengan komunikasi kita dapat menyampaikan semua yang kita rasakan, pikirkan, dan kita ketahui kepada orang-orang lain. Dengan komunikasi pula kita mempelajari dan mewarisi semua yang pernah dicapai oleh nenek moyang kita, serta apa yang dicapai oleh orang¬-orang yang sejaman dengan kita.
Sebagai alat komunikasi bahasa merupakan saluran perumusan maksud kita, melahirkan perasaan kita dan menciptakan kerja sama dengan sesama warga. la mengatur berbagai macam aktivitas kemasyarakatan, serta merencanakan dan mengarahkan masa depan kita. la juga memungkinkan manusia menganalisis masa lampaunya untuk memetik hasil-hasil yang berguna bagi masa kini dan masa yang akan datang.
3. Alat Mengadakan Integrasi dan Adaptasi Sosial
Bahasa di samping sebagai salah satu unsur kebudayaan, memungkinkan pula manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman-¬pengalaman itu, serta belajar berkenalan dengan orang lain.
Melalui bahasa seorang anggota masyarakat perlahan-lahan belajar mengenal segala adat-istiadat, tingkah laku dan tata krama masyarakatnya dan berusaha menyesuaikan dirinya (adaptasi) dengan semuanya.
4. Alat Mengadakan Kontrol Sosial
Sebagai alat mengadakan kontrol sosial bahasa juga digunakan untuk mempengaruhi tingkah laku dan tindak-tindak orang lain. Tingkah laku itu dapat bersifat terbuka (overt: tingkah laku yang dapat diamati/ diobservasi), maupun yang bersifat tertutup (covert: tingkah laku yang tidak dapat diobservasi). Semua kegiatan sosial akan berjalan dengan baik karena dapat diatur dengan mempergunakan bahasa.
Dalam mengadakan kontrol sosial bahasa itu mempunyai relasi dengan proses-proses sosialisasi suatu masyarakat. Proses-proses sosialisasi itu dapat diwujudkan dengan cara-cara berikut : (a) memperoleh keahlian bicara, dan dalam masyarakat yang lebih maju, memperoleh keahlian membaca dan menulis, (b) bahasa merupakan saluran yang utama, dimana kepercayaan dan sikap masyarakat diberikan kepada anak-anak yang tengah tumbuh, (c) bahasa melukiskan dan menjelaskan peranan yang dilakukan oleh si anak untuk mengidentifikasikan dirinya supaya dapat mengambil tindakan-¬tindakan yang diperlukan, (d) bahasa, menanamkan rasa keterlibatan (sees of belonging atau es prit de corps) pada si anak tentang masyarakat bahasanya.
Menurut Mar’at (2005: 19) fungsi bahasa adalah alasan-alasan mengapa seseorang berbicara. Fungsi bahasa pada umumnya mengkomunikasikan apa yang ingin disampaikan. Ada dua macam fungsi bahasa yaitu:
1. Fungsi bahasa yang bersifat intrapersonal (mathetik), yaitu penggunaan bahasa untuk memecahkan persoalan (problem solving), mengambil keputusan (decision making), berpikir, mengingat dan sebagainya.
2. Fungsi bahasa yang bersifat interpersonal (progmatik), yaitu yang menunjukkan adanya suatu pesan atau keinginan penutur (message). Biasanya diungkapkan dalam bentuk kalimat perintah, kalimat tanya, dan kalimat berita.
Dari pengertian fungsi bahasa yang dikemukakan oleh beberapa pakar di atas, dapat disimpulkan bahwa fungsi bahasa adalah sebagai alat komunikasi dan sebagai alat interaksi sosial, untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau juga perasaan.

D. Ragam Bahasa
Dalam ragam bahasa atau variasi bahasa, terdapat dua pandangan. Pertama, variasi dilihat sebagai akibat adanya keragaman sumber sosial penutur bahasa dan keragaman fungsi bahasa. Kedua, variasi atau ragam bahasa sudah ada untuk memenuhi fungsinya sebagai alat interaksi dalam masyarakat yang beraneka ragam (Chaer dan Leonie Agustina, 2004: 62).
Chaer dan Leonie Agustina (2004: 62) mengemukakan ada empat macam jenis variasi bahasa, yaitu (1) variasi dari segi penutur, (2) variasi dari segi pemakaian, (3) variasi dari segi keformalan dan (4) variasi dari segi sarana.
1. Variasi dari Segi Penutur
a. Idiolek
Ideolek yaitu variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Menurut konsep ideolek, setiap orang mempunyai variasi bahasa atau ideoleknya masing-masing.
b. Dialek
Dialek yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah atau area tempat tinggal penutur. Misalnya, bahasa Jawa dialek Banyumas, Pekalongan, Tegal dan lain sebagainya.
c. Kronolek atau Dialek Temporal
Kronolek atau dialek temporal yaitu variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu.
d. Sosiolek atau Dialek Sosial
Sosiolek yaitu variasi bahasa yang berkenaan dengan status, golongan dan kelas sosial para penuturnya. Variasi bahasa ini menyangkut semua masalah pribadi masalah penuturnya, seperti usia, pendidikan, pekerjaan dan lain sebagainya.

2. Variasi dari Segi Pemakaian
Variasi bahasa berdasarkan bidang pemakai menyangkut bahasa itu digunakan untuk apa, dalam bidang apa, sehingga muncullah beberapa ragam bahasa seperti ragam bahasa sastra, ragam bahasa jurnalistik, ragam bahasa militer, ragam bahasa ilmiah dan ragam bahasa niaga atau perdagangan. Variasi bahasa dari segi pemakai ini paling tampak cirinya adalah dalam hal kosakata. Setiap bidang kegiatan biasanya mempunyai kosakata khusus yang tidak digunakan dalam bidang lain.
3. Variasi dari Segi Keformalan (situasi)
Berdasarkan tingkat keformalannya, Martin Joos (1967) dalam bukunya The Five Clock (dalam Chaer dan Leonie Agustina, 2004: 70) membagi variasi bahasa atas lima macam ragam, yaitu (a) ragam bahasa baku, (b) ragam resmi, (c) ragam usaha atau ragam konsultatif, (d) ragam santai, dan (e) ragam akrab.
a. Ragam Baku
Ragam baku yaitu variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi-situasi khikmat. Misalnya dalam upacara kenegaraan, khotbah dan sebagainya.
b. Ragam Resmi
Ragam resmi yaitu variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat dan sebagainya.
c. Ragam Usaha atau Ragam Konsultatif
Ragam usaha atau ragam konsultatif yaitu variasi bahasa yang lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah dan rapat-rapat atau pembicaraan yang berorientasi kepada hasil produksi.
d. Ragam Santai
Ragam santai yaitu variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu istrahat, berolahraga, berekreasi dan sebagainya.
e. Ragam Akrab
Ragam akrab yaitu variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab, seperti antar anggota keluarga, atau antar teman yang sudah akrab. Ragam ini ditandai dengan penggunaan bahasa yang tidak lengkap, pendek-pendek dan artikulasi yang seringkali tidak jelas.

4. Variasi dari Segi Sarana
a. Ragam lisan, menyampaikan informasi secara lisan dan dibantu dengan nada suara, gerak-gerik tangan dan jumlah gejala fisik lainnya.
b. Ragam tulis, dalam bahasa tulis lebih menaruh perhatian agar kalimat-kalimat yang disusun bisa dipahami pembaca.
Dari beberapa jenis variasi bahasa, penelitian ini hanya memfokuskan pada teori variasi bahasa dari segi pemakaian karena variasi bahasa Indonesia dalam ragam bahasa alay merupakan variasi atau ragam bahasa Indonesia yang digunakan sebagian besar para remaja dan dewasa sekarang untuk berkomunikasi, terutama di dalam media jejaring sosial facebook.

E. Ragam Bahasa Tidak Baku
Ragam bahasa tidak baku dapat digolongkan dalam dua ragam bahasa yaitu ragam bahasa santai atau ragam bahasa akrab. Ragam bahasa santai adalah variasi bahasa yang digunakan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman karib pada waktu beristirahat, berolahraga, berekreasi dan sebagainya. Sedangkan ragam bahasa akrab adalah variasi bahasa yang biasa digunakan oleh para penutur yang hubungannya sudah akrab, seperti antar anggota keluarga atau antar teman yang sudah karib (Chaer dan Leonie Agustina, 2004: 71).
Ragam bahasa alay termasuk dalam ragam bahasa tidak baku. Ragam bahasa alay digunakan oleh para ABG ‘anak baru gede’. Alay telah menjadi salah satu tolok ukur trend dan gaya gaul masa kini yang benar-benar lagi digandrungi ABG zaman sekarang. Berikut pengertian alay menurut beberapa ahli (Fanayun, 2010: 6-7). Menurut pendapat Koentjaraningrat, Bapak Antropologi Indonesia:
“Alay adalah gejala yang dialami pemuda-pemudi Indonesia yang ingin diakui statusnya di antara teman-temannya. Gejala ini akan mengubah gaya tulisan dan gaya berpakaian, sekaligus meningkatkan kenarsisan yang cukup kreatif dari dunia ini. Diharapkan sifat ini bisa berkembang. Jika tidak, Indonesia ini ketinggalan zaman”

Pendapat dari Koentjaraningrat di atas, berbeda dengan yang diucapkan tokoh pendidikan, Selo Soemardjan:
“Alay adalah perilaku remaja Indonesia yang ingin membuat dirinya keren, cantik, hebat di antara yang lain. Hal ini bertentangan dengan sifat rakyat Indonesia yang sopan, santun, dan ramah. Faktor yang menyebabkannya bisa dari media TV (Sinetron) dan musisi dengan berdandan seperti itu”.

Ragam bahasa alay muncul pertama kalinya sejak ada program SMS (Short Massage Service) atau pesan singkat dari layanan operator yang mengenakan tarif per karakter atau pun per SMS yang berfungsi untuk menghemat biaya. Namun dalam perkembangannya, kata-kata yang disingkat tersebut semakin melenceng, apalagi sekarang sudah terdapat situs jejaring sosial. Sekarang penggunaan ragam bahasa alay sudah diterapkan di situs jejaring sosial tersebut, dan yang lebih parahnya lagi sudah tidak menyingkat kata, namun sudah mengubah kosa katanya, bahkan cara penulisannya pun bisa membuat sakit mata orang yang membacanya karena menggunakan huruf besar dan kecil, ditambah lagi dengan angka dan karakter tanda baca. Bahkan arti kosa katanya pun melenceng jauh dari yang dimaksud (Pietersz: 2012).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s