Naskah Drama (Skenario) sebagai Genre Sastra

Menurut Noor (2007:27) istilah drama berasal dari bahasa Yunani draomai yang berarti berbuat. Pengertian drama adalah pertunjukan cerita atau lakon kehidupan manusia yang dipentaskan. Drama sebagai karya sastra berupa naskah drama. Berkaitan dengan hal itu, dalam proses terjadinya drama biasa dirumuskan dalam formula 4 M yaitu mengkhayal, menuliskan, memainkan, dan menyaksikan. Drama sebagai karya sastra hanya sampai pada tahapan kedua yakni menuliskan. Adapun struktur naskah drama secara umum antara lain: susunan nama pelaku, sinopsis, urutan nomor percakapan (dialog) dengan nama pelaku, mencantumkan tanda baca yang jelas, memberi penjelasan sebagai keterangan dalam tanda kurung, memberikan tanda bagian ilustrasi musik, menyusun urutan kata dan kalimat yang jelas, mengemukakan pokok pikiran dengan jelas dalam percakapan (dialog), memberikan tanda pergantian babak dengan jelas, dan mengakhiri cerita dengan kalimat yang padat.
Sebagai suatu genre sastra, drama mempunyai kekhususan dibandingkan dengan genre puisi atau genre fiksi. Kekhususan drama disebabkan pada tujuan drama ditulis pengarangnya tidak hanya berhenti pada pembeberan peristiwa untuk dinikmati secara artistik imajinatif oleh para pembacanya, namun harus diteruskan untuk kemungkinan dapat dipertontonkan dalam suatu penampilan gerak dan perilaku kongkret yang dapat disaksikan. Untuk itulah, drama dapat dianggap sebagai suatu karya yang memiliki dua dimensi, yakni dimensi sastra dan dimensi seni pertunjukan (Hasanudin,2009: 1-2).
Drama sebagai karya sastra tidak terlepas dari manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Dalam drama, masalah kehidupan dan kemanusiaan yang dikemukakan biasanya tidaklah terlepas dari aspek-aspek sosial masyarakat dalam hubungan manusia dengan manusia lainnya. Drama juga menyajikan aspek-aspek perilaku manusia dalam kaitannya dengan nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai sebuah karya, drama memiliki karakteristik khusus yakni berdimensi sastra pada satu sisi dan berdimensi seni pertunjukan pada sisi yang lain. Pada dimensi sastra, drama dibangun dan dibentuk oleh unsur-unsur sebagaimana terlihat dalam genre sastra yang lain yaitu unsur yang membangun karya dari dalam (intrinsik) dan unsur yang mempengaruhi penciptaan karya dari luar (ekstrinsik). Dengan demikian, kapasitas drama sebagai karya sastra haruslah dipahami bahwa drama tidak hadir begitu saja (Hasanudin,2009: 8-9).
Adapun dari dalam karya itu sendiri cerita dibentuk oleh unsur-unsur yang salah satunya adalah tokoh dan penokohan. Istilah tokoh lebih menunjuk pada orangnya atau pelaku cerita. Tokoh merupakan salah satu struktur penting dalam membangun karya sastra. Meskipun kata tokoh dan penokohan sering digunakan orang untuk menyebut hal yang sama atau kurang lebih sama, sebenarnya keduanya tidaklah mengacu pada hal yang sama persis. Kata tokoh lebih cenderung ditafsirkan sebagai orang atau pelaku yang ditampilkan dalam sebuah karya. Tokoh dapat pula diartikan sebagai orang-orang yang ditampilkan dalam sebuah cerita naratif atau drama yang memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu, seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam perbuatan, sedangkan penokohan merupakan pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Nurgiantoro,2010: 165). Dengan demikian, penokohan memiliki cakupan orang yang ditampilkan dalam sebuah cerita fiksi dan bagaimana bentuk penggambarannya.
Dalam hal ini Stanton (2000: 24) berpendapat bahwa hamper setiap cerita memiliki tokoh sentral, yaitu tokoh yang berhubungan dengan setiap peristiwa dalam cerita. Biasanya peristiwa-peristiwa tersebut menimbulkan adanya perubahan, baik dalam diri tokoh maupun dalam sikap kita terhadap tokoh tersebut. Alasan tokoh mengerjakan apa yang harus dikerjakan disebut motivasi. Alasan mendadak terhadap suatu pembicaraan atau tindakan, mungkin tidak disadari, disebut motivasi khusus. Segala aspek watak umum, yang antara lain berupa keinginan atau perhatian terus menerus yang mengatur tokoh melalui cerita disebut motivasi dasar. Hampir semua motivasi khusus mengarah atau mendukung kepada motivasi umum.
Setiap pengarang berkeinginan kepada pembaca untuk bisa memahami tokoh-tokohnya beserta motivasi mereka dengan baik. Akan tetapi tidak ada seorang pengarang pun yang menceritakan segala sesuatunya secara langsung kepada pembaca oleh karena itu, pengalaman pembaca tentang tokoh biasanya terlalu sederhana atau berat sebelah, dan cenderung menyamakan dalam beberapa stereotype. Pembaca yang berpengalaman tentunya terus belajar untuk menunda pendapatnya terhadap tokoh, dan membiarkan setiap nilai baru memasuki pengalamannya, dan menghindari interpretasi akhir sampai pembaca mengetahui semuanya. Dengan pembaca yang terus belajar untuk memahami cerita yang tidak di mengerti dengan melakukan pembacaan minimal dua kali. Dengan demikian, memalui pengalaman serta pengetahuan tentang watak, maka kita sebagai pembaca akan mengerti dan mampu menganalisa tindakan, dan sebaliknya, melalui tindakan yang diperlihatkan oleh tokoh dalam cerita dapat diketahui pula bagaimana watak tokoh tersebut.
Tokoh-tokoh cerita dalam sebuah fiksi dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis penamaan tokoh yang berdasarkan sudut pandang dan tinjauan. Adapun jenis-jenis tokoh menurut Nurgiyantoro (2010: 176-179) antara lain:
a. Tokoh Utama dan Tokoh Tambahan: Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan dalam penceritaannya dalam karya sastra dan merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan, baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Karena tokoh utama yang paling banyak diceritakan dan selalu berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, maka akan sangat menentukan perkembangan plot secara keseluruhan, Sedangkan tokoh tambahan merupakan tokoh yang berfungsi sebagai pendukung tokoh utama.
b. Tokoh Protagonis dan Tokoh Antagonis: Tokoh protagonis adalah tokoh yang selalu dikagumi, tokoh yang merupakan pengejawantahan norma-norma, nilai-nilai, yang ideal bagi masyarakat. Tokoh protagonis sering ditampilkan sesuatu yang sesuai dengan pandangan dan harapan pembaca. Berbeda dengan tokoh antagonis yang merupakan tokoh penyebab terjadinya konflik. Tokoh antagonis barangkali dapat disebut, beroposisi dengan tokoh protagonis, baik secara langsung ataupun tidak langsung, bersifat fisik ataupun batin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s