Kritik Sosial terhadap Karya Sastra

Menurut Suyitno (2009: 1) kata kritik berasal dari bahasa Yunani Kuno krites untuk menyebut hakim. Kata benda krites itu berasal dari kata kerja krinein yang berarti menghakimi. Kata krinein merupakan pangkal dari kata benda kriterion yang berarti dasar penghakiman. Kemudian timbul kata kritikos yang diartikan sebagai hakim karya sastra. Kritik sastra merupakan bidang studi sastra untuk “menghakimi” karya sastra, untuk memberi penilaian atau keputusan mengenai bermutu atau tidaknya suatu karya sastra (Pradopo, 2002: 32). Dalam kritik sastra, suatu karya sastra diuraikan (dianalisis) unsur-unsurnya atau norma-normanya, diselidiki, diperiksa satu per satu, kemudian ditentukan berdasarkan “hukum-hukum” penilaian karya sastra, bernilai atau kurang bernilainya karya sastra itu.
Fananie (2000: 20) menjabarkan bahwa kritik sastra adalah semacam pertimbangan untuk menunjukkan kekuatan atau kebagusan dan juga kekurangan yang terdapat dalam karya sastra. Karena itu hasil dari kritik sastra biasanya mencakup dua hal yaitu baik dan buruk (goodness atau dislikeness). Pada proses penciptaan sebuah karya, tidak jarang pengarang/pencipta lagu (seniman) menyelipkan pesan-pesan sosial yang hendak disampaikan kepada pembaca. Diantaranya dapat berupa kritik sosial yang sengaja dihadirkan untuk disampaikan kepada para penikmat sastra. Kritik sosial yang dihadirkan dalam sebuah karya sastra menjadi penting peranannya, ketika seorang pengarang tersebut di dalam melahirkan karya sastranya mempunyai tujuan atau sebuah misi.
Bahkan beratasnamakan amanat sosial yang diembannya, ia akan dengan sengaja menyampaikan kritik sosial tersebut melalui karya yang diciptakannya. Kritik sosial merupakan alat atau mediasi antar golongan dalam masyarakat. Sebagaimana diungkapkan oleh Ratna (2008: 243), bahwa karya seni, khususnya sastra merupakan alat atau media untuk menyatukan individu, kelompok, suku, dan bahkan antar bangsa. Karya sastra dapat juga dijadikan sebagai sarana aspirasi masyarakat dan dapat pula dikatakan sebagai perjuangan non fisik, selanjutnya juga ditambahkan bahwa sastra bisa disampaikan melalui sarana gaya bahasa, peribahasa, kiasan semboyan dan berbagai manifestasi metaforis dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan pendapat tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa kritik sosial dalam karya sastra merupakan upaya yang dilakukan seorang pengarang, dengan cara memberikan suatu tanggapan terhadap persoalan-persoalan yang ia lihat pada masyarakat. Sedangkan, tanggapan tersebut biasanya disertai dengan pertimbangan atau pemikiran pengarang. Tanggapan atau ketimpangan-ketimpangan yang berbentuk kritik dalam karya sastra dapat pula berasal dari sebagian orang atau sebagian kelompok yang merasakan dampak dari ketimpangan-ketimpangan yang terjadi. Selanjutnya, pengarang mencoba menyatakan kesalahan atau ketimpangan dalam masyarakat yang ia ketahui dan ia dengar melalui bentuk sindiran, ejekan, bahkan celaan dengan tujuan menyadarkan objek sasaran. Kritik sosial dalam lirik lagu punk Predator karya band marjinal meliputi beberapa aspek yaitu;

1. Kritik Sosial terhadap Pemerintah
Pemerintah dalam hal ini memegang peranan penting karena dalam suatu negara pemerintah yang menetapkan, menyatakan dan menjalankan kemauan individu-individu yang tergabung dalam organisasi politik. Rosyada dkk (2000: 47) mengemukakan pemerintah adalah alat kelengkapan negara yang bertugas memimpin organisasi negara untuk mencapai tujuan negara. Kritik dari masyarakat berfungsi sebagai kontrol terhadap pemerintah untuk dapat melaksanakan tugasnya dengan baik. Ketika pemerintah mampu menjalankan tugas sesuai dengan fungsinya maka kehidupan dalam negara ini akan berjalan kondusif. Oleh karena itu pemerintah harus memperbaiki sistem-sistem yang belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat.

2. Kritik terhadap Kekuasaan
Mahyudin (2009: 218) mengatakan bahwa kekuasaan merupakan kemampuan pelaku untuk mempengaruhi tingkah laku pelaku lain sedemikian rupa sehingga tingkah laku pelaku terakhir menjadi sesuai dengan keinginan pelaku yang mempunyai kekuasaan. Ketika kekuasaan hanya mementingkan kepentingan pribadi tanpa memperdulikan kepentingan rakyatmaka rakyat kecil akan semakin dikesampingkan. Hukum di Indonesia masih mengistimewakan seseorang yang mempunyai kekuasaan. Dalam hal ini kekuasaan bukan hanya dimiliki oleh para pejabat pemerintah. Namun, kekuasaan juga dimiliki oleh seseorang yang mempunyai taraf ekonomi tinggi. Banyak kasus hukum yang tidak tuntas dan tidak diketahui penyelesaiannya. Hal tersebut dikarenakan hukum di Indonesia masih ternilai dengan angka, sehingga masih ada oknum jaksa yang terkena kasus suap.

3. Kritik terhadap Ekonomi
Menurut Pusat Pengkajian dan Pengembangan Ekonomi Islam (2008: 14) secara umum ekonomi didefinisikan sebagai perlakuan manusia dalam menggunakan sumber daya untuk memproduksi barang dan jasa yang dibutuhkan manusia.Jadi ekonomi merupakan sebuah proses kegiatan manusia yang memanfaatkan sumber daya untuk menghasilkan barang maupun jasa demi terpenuhinya kebutuhan manusia. Tingkat perekonomian sebuah negara akan mempengaruhi daya hidup rakyatnya. Apabila tingkat ekonominya tinggi maka akan menyejahterakan rakyatnya, dan apabila perekonomian sebuah negara lemah maka akan membuat rakyat sulit untuk memperoleh kehidupan yang layak.
Indonesia merupakan negara berkembang, di mana kesenjangan masyarakat taraf ekonomi menengah kebawah dan masyarakat yang bertaraf ekonomi menengah ke atas sangat jelas terlihat. Keputusan atau kebijakan pemerintah dirasa kurang berpihak pada rakyat kecil. Penggusuran perumahan padat penduduk tanpa jalan keluar, kenaikan harga bahan pokok yang tidak terkontrol, undang-undang ketenagakerjaan yang memberlakukan sistem kontrak, dan sebagainya semakin membuat rakyat kecil sulit untuk mendapatkan kehidupan yang layak.

4. Kritik terhadap HAM (hak asasi manusia)
Rosyada dkk (2000: 200) mengatakan bahwa HAM (hak asasi manusia) adalah hak yang melekat pada diri manusia yang bersifat kodrati dan fundamental sebagai suatu anugerah Allah yang harus dihormati, dijaga dan dilindungi oleh setiap individu, masyarakat atau negara. Melalui HAM itulah manusia akan memiliki rasa saling menghormati dan menghargai hak antar sesama. Jadi HAM adalah suatu hal yang harus dijaga baik oleh individu masyarakat maupun negara yang menjadi tempat singgahnya suatu kelompok manusia agar tercipta sebuah kehidupan yang kondusif.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s