Interaksi Sosial

1. Pengertian
Menurut Shibutani dalam Soekanto (2012:53), pengetahuan tentang proses sosial itu sangat penting, itulah sebabnya pengetahuan perihal struktur masyarakat saja belum cukup untuk memperoleh gambaran yang nyata mengenai kehidupan. Bahkan ia menyatakan bahwa sosiologi mempelajari transaksi-transaksi sosial yang mencakup usaha-usaha kerja sama antar pihak karena semua kegiatan manusia didasarkan pada gotong-royong. Memang tidak dapat disangkal bahwa masyarakat mempunyai bentuk-bentuk strukturalnya seperti kelompok-kelompok sosial, kebudayaan, lembaga sosial, stratifikasi, dan kekuasaan. Tetapi semuanya itu mempunyai suatu derajat dinamika tertentu yang menyebabkan pola-pola perilaku yang berbeda-beda, tergantung dari masing-masing situasi yang dihadapi. Perubahan dan perkembangan masyarakat yang mewujudkan segi dinamis disebabkan karena para warganya mengadakan hubungan satu dengan lainnya baik dalam bentuk orang perorangan maupun kelompok sosial.
Bertemunya orang-perorangan secara badaniah belaka tidak akan menghasilkan pergaulan hidup dalam suatu kelompok sosial. Pergaulan hidup semacam itu baru akan terjadi apabila orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia bekerja sama, saling berbicara, dan seterusnya untuk mencapai suatu tujuan bersama, mengadakan persaingan, pertikaian, dan sebagainya. Hubungan timbal balik atau saling mempengaruhi antarmanusia tersebut berlangsung sepanjang hidupnya dalam masyarakat. Maka, dapat dikatakan bahwa interaksi sosial merupakan dasar proses sosial yang menunjuk pada hubungan-hubungan sosial yang dinamis (Soekanto, 2012: 53-55).
2. Bentuk-bentuk Interaksi Sosial
Bentuk-bentuk interaksi sosial dapat berupa kerja sama (cooperation), persaingan (competition), dan bahkan dapat juga berbentuk pertentangan atau pertikaian (conflict). Suatu pertikaian mungkin mendapatkan suatu penyelesaian. Mungkin penyelesaian tersebut hanya akan dapat diterima untuk sementara waktu, yang dinamakan akomodasi (accomodation), dan ini berarti bahwa kedua pihak belum tentu puas sepenuhnya. Suatu keadaan dapat diangggap sebagai bentuk keempat dari interaksi sosial. Keempat bentuk pokok dari interaksi sosial tersebut tidak perlu merupakan suatu kontinuitas. Didalam arti bahwa interaksi ini dimulai dengan kerja sama yang kemudian menjadi persaingan serta memuncak menjadi pertikaian untuk akhirnya sampai pada akomodasi. Akan tetapi, ada baiknya untuk menelaah proses-proses interaksi tersebut di dalam kelangsungannya. Proses-proses interaksi yang pokok tersebut adalah proses asosiatif dan proses disosiatif (Soekanto, 2012: 64-65).
a. Proses Asosiatif
Proses asosiatif merupakan hubungan yang bersifat positif. Artinya hubungan ini dapat mempererat atau memperkuat jalinan atau solidaritas kelompok. Proses asosiatif merupakan penggabungan antara dua objek. Proses penggabungan dapat diuraikan menjadi dua bentuk yakni kerja sama dan akomodasi.
1) Kerja Sama (Cooperation)
Beberapa sosiolog menganggap bahwa kerja sama merupakan bentuk interaksi sosial yang utama. Sebaliknya, sosiolog lain menganggap bahwa kerja samalah yang merupakan proses utama. Golongan yang terakhir tersebut memahamkan kerja sama untuk menggambarkan sebagian besar bentuk-bentuk interaksi sosial atas dasar bahwa segala macam bentuk interaksi tersebut dapat dikembalikan pada kerja sama. Kerja sama di sini dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.
Cooley dalam Soekanto (2012:66) menggambarkan pentingnya fungsi kerja sama sebagai berikut.
“Kerja sama timbul apabila orang menyadari bahwa mereka mempunyai kepentingan-kepentingan yang sama dan pada saat yang bersamaan mempunyai cukup pengetahuan dan pengendalian terhadap diri sendiri untuk memenuhi kepentingan-kepentingan tersebut, kesadaran akan adanya kepentingan-kepentingan yang sama dan adanya organisasi merupakan fakta-fakta yang penting dalam kerja sama yang berguna.”

Dalam teori-teori sosiologi akan dapat dijumpai beberapa bentuk kerja sama (cooperation). Kerja sama tersebut lebih lanjut dibedakan lagi dengan: kerja sama spontan (spontaneous cooperation), kerja sama langsung (directed cooperation), kerja sama kontrak (contractual cooperation), dan kerja sama tradisional (traditional cooperation). Kerja sama spontan adalah kerja sama yang serta-merta. Kerja sama langsung merupakan hasil dari perintah atasan atau penguasa, sedangkan kerja sama kontrak merupakan kerja sama atas dasar tertentu, dan kerja sama tradisional merupakan bentuk kerja sama sebagai bagian atau unsur dari sistem sosial (Soekanto, 2012: 65-67).
2) Akomodasi (Accomodation)
a) Pengertian
Istilah akomodasi dipergunakan dalam dua arti, yaitu untuk menunjuk pada suatu keadaan dan untuk menunjukkan pada suatu proses. Akomodasi yang menunjukkan pada suatu keadaan berarti adanya suatu keseimbangan (equilibrium) dalam interaksi antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia dalam kaitannya dengan norma-norma sosial dan nilai-nilai sosial yang berlaku di dalam masyarakat. Sebagai suatu proses, akomodasi menunjuk pada usaha-usaha manusia untuk meredakan suatu pertentangan yaitu usaha-usaha untuk mencapai kestabilan.
Menurut Gillin dan Gillin dalam Soekanto (2012:69), akomodasi adalah suatu pengertian yang digunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan pengertian adaptasi (adaptasion) yang dipergunakan oleh ahli-ahli biologi untuk menunjuk pada suatau proses dimana makhluk-makhluk hidup menyesuaikan dirinya dengan alam sekitarnya. Dengan pengertian tersebut dimaksudkan sebagai suatu proses dimana orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia yang mula-mula saling bertentangan, saling mengadakan penyesuaian diri untuk mengatasi ketegangan-ketegangan. Sebenarnya pengertian adaptasi menunjuk pada perubahan-perubahan organis yang disalurkan melalui kelahiran, dimana makhluk-makhluk hidup menyesuaikan diri dengan alam sekitarnya sehingga dapat mempertahankan hidupnya. Akomodasi sebenarnya merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan sehingga lawan tidak kehilangan kepribadiannya.
b) Bentuk-bentuk Akomodasi
Akomodasi sebagai suatu proses mempunyai beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut.
(1) Coercion adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh karena adanya paksaan. Coercion merupakan bentuk akomodasi, di mana salah satu pihak berada dalam keadaan yang lemah bila dibandingkan dengan lawan. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara fisik (yaitu secara langsung), maupun secara psikologis (yaitu secara tidak langsung).
(2) Compromise adalah suatu bentuk akomodasi di mana pihak-pihak yang terlihat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada. Sikap dasar untuk dapat melaksanakan compromise adalah bahwa salah satu pihak bersedia untuk merasakan dan memahami keadaan pihak lainnya dan begitu pula sebaliknya.
(3) Arbitration merupakan suatu cara untuk mencapai compromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri. Pertentangan diselesaikan oleh pihak ketiga yang dipilih oleh kedua belah pihak atau oleh suatu badan yang berkedudukan lebih tinggi dari pihak-pihak yang bertentangan.
(4) Mediation hampir menyerupai arbitration. Pada mediation diundanglah pihak ketiga yang netral dalam soal perselisihan yang ada. Pihak ketiga tersebut tugas utamanya adalah untuk mengusahakan suatu penyelesaian secara damai. Kedudukan pihak ketiga hanyalah sebagai penasehat belaka. Dia tidak mempunyai wewenang untuk memberi keputusan-keputusan penyelesaian perselisihan tersebut.
(5) Conciliation adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak-pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama. Conciliation bersifat lebih lunak daripada coercion dan membuka kesempatan bagi pihak-pihak yang bersangkutan untuk mengadakan asimilasi.
(6) Tolerantion juga sering dinamakan tolerant-participation. Ini merupakan suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang formal bentuknya. Kadang-kadang tolerantion timbul secara tidak sadar tanpa direncanakan karena adanya watak orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia untuk sedapat mungkin menghindarkan diri dari suatu perselisihan. Dari sejarah dikenal bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang toleran yang sedapat mungkin menghindarkan diri dari perselisihan-perselisihan.
(7) Stalemate merupakan suatu akomodasi, di man pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya. Hal ini disebabkan karena bagi kedua belah pihak sudah tidak ada kemungkinan lagi baik untuk maju maupun untuk mundur.
(8) Adjudication, yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di pengadilan.
b. Proses Disosiatif
Proses disosiatif sering disebut sebagai oppositional processes, yang persis halnya dengan kerja sama, dapat ditemukan pada setiap masyarakat, walaupun bentuk dan arahnya ditentukan oleh kebudayaan dan sistem sosial masyarakat bersangkutan. Hal itu tergantung pada unsur-unsur kebudayaan terutama yang menyangkut sistem nilai, struktur masyarakat, dan sistem sosialnya. Faktor yang paling menentukan sebenarnya adalah sistem nilai masyarakat tersebut. Oposisi dapat diartikan sebagai cara berjuang melawan seseorang atau sekelompok manusia untuk mencapai tujuan tertentu. Terbatasnya makanan, tempat tinggal, serta faktor-faktor lain telah melahirkan beberapa bentuk kerja sama atau oposisi. Pola-pola oposisi tersebut dinamakan juga sebagai perjuangan untuk tetap hidup (struggle for existence). Di dalam menghadapi alam, tidak jarang manusia harus berjuang dengan keras supaya dapat bertahan karena tidak di semua tempat keadaan alam menguntungkan kehidupan manusia. Untuk kepentingan analisis ilmu pengetahuan, oposisi atau proses-proses yang disosiatif dibedakan dalam beberapa bentuk yaitu sebagai berikut.
1) Persaingan
Persaingan atau competition dapat diartikan sebagai suatu proses sosial, di mana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan. Melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum (baik perseorangan maupun kelompok manusia). Dengan cara menarik perhatian publik atau dengan mempertajam prasangka yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan. Persaingan dilakukan dengan norma dan nilai yang diakui bersama dan berlaku pada masyarakat tersebut. Persaingan yang disertai dengan kekerasan, ancaman, atau keinginan untuk merugikan pihak lain dinamakan persaingan tidak sehat. Persaingan mempunyai dua tipe umum, yakni bersifat pribadi dan tidak pribadi. Persaingan yang bersifat pribadi, orang-perorangan, atau individu secara langsung bersaing untuk memperoleh kedudukan tertentu di dalam suatu organisasi. Tipe ini juga dinamakan rivaly. Di dalam persaingan yang tidak bersifat pribadi, yang langsung bersaing adalah kelompok. Misalnya, persaingan dapat terjadi antara dua perusahaan besar yang bersaing untuk mendapatkan monopoli di suatu wilayah tertentu.
2) Kontravensi (Contravention)
a) Pengertian
Kontravensi pada hakikatnya merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Kontravensi terutama ditandai oleh gejala-gejala adanya ketidakpastian mengenai diri seseorang atau suatu rencana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian, atau keragu-raguan terhadap kepribadian seseorang. Atau, perasaan tersebut dapat pula berkembang terhadap kemungkinan, kegunaan, keharusan atau penilaian terhadap suatu usul, buah pikir, kepercayaan, doktrin, atau rencana yang dikemukakan orang-perorang atau kelompok manusia lain.
Dalam bentuknya yang murni, kontravensi merupakan sikap mental yang tersembunyi terhadap orang-orang lain atau terhadap unsur-unsur kebudayaan suatu golongan tertentu. Sikap tersembunyi tersebut dapat berubah menjadi kebencian, tetapi tidak sampai menjadi pertentangan atau pertikaian.
b) Tipe-Tipe Kontravensi
Menurut Von Wiese dan Becker dalam Soekanto (2012:88-90), terdapat tiga tipe umum kontravensi, yaitu kontravensi generasi masyarakat, kontravensi yang menyangkut seks, dan kontravensi parlementer.
Kontravensi generasi yang terdapat dalam masyarakat lazim terjadi, terutama dalam zaman ini, dimana perubahan-perubahan terjadi dengan cepat. Kontravensi semacam ini umumnya dijumpai di kota-kota besar di Indonesia dimana terjadi bentrokan antara generasi muda dengan generasi tua karena latar belakang dan pengalaman yang berbeda.
Kontravensi seksual terutama menyangkut hubungan suami dengan istri dalam keluarga. Nilai-nilai masyarakat dewasa ini pada umumnya juga di Indonesia berkecenderungan untuk menempatkan suami dan istri pada kedudukan dan peranan yang sejajar. Akan tetapi, hal itu kadang-kadang masih mendatangkan keragu-raguan terhadap para wanita, terutama yang menyangkut kemampuan, mengingat latar belakang sejarah dan kebudayaan, kedudukan wanita pada umumnya. Hal itu tidak hanya sepanjang hal-hal yang berhubungan erat dengan soal kekeluargaan. Misalnya pendidikan anak-anak, tetapi juga menyangkut peranannya di masyarakat dalam arti luas, seperti, kesempatan kerja.
Kontravensi parlementer berkaitan dengan hubungan antara golongan mayoritas dengan golongan minoritas dalam masyarakat, baik yang menyangkut hubungan mereka di dalam lembaga-lembaga legislatif, keagamaan, pendidikan, dan seterusnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s