makalah tentang morfologi kata sandang (artikula)

MAKALAH TENTANG MORFOLOGI KATA SANDANG (ARTIKULA)

 

 

Disusun oleh:

Khaerul Sobar                         0901040001

 

 

 

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

2010

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. 1.      LATAR BELAKANG MASALAH

Dalam deskripsi dan studi dan studi garamatika sistem kelas kata menempati posisi penting sejak ilmu bahas mulai dikembangkan orang. Seperti dalam salah satu karya paling tua yang dianggap sebagai peletak dasar sistem kelas kata, yaitu dalam karya Aristoteles Peri Hermeneias, segi ini menjadi pokok pembahasan tentang bahasa. Pada karya-karya selanjutnya, dalam deskripsi dan preskripsi gramatika kelas kata dianggap demikian sentralnya, sehingga garmatika tidak lain daripada kelas kata.

Berbeda dengan karya tradisional yang memperlakukan kelas kata sebagai inti tata bahasa, dalam linguistik modern klasifikasi kata atau kategorisasi kata hanya dianggap sebagai salah satu aspek tata bahasa. Klasifikasi kata disejajarkan dengan aspek-aspek lain yang harus mendapat perlakuan yang seimbang, bila kita akan mendeskripsikan tata bahasa secara memadai.

Pembahasan mengenai kelas kata dalam bahasa Indonesia tidak dapat mengabaikan uraian yang telah diberikan dalam buku-buku maupun karangan-karangan mengenai kelas kata dalam bahasa Melayu maupun Indonesia. Pembagian kelas kata merupakan inti dari buku-buku tata bahasa Melayu dan Indonesia, seperti dalam buku karya S. Takdir Alisjahbana (1953). Dalam bukunya yang sangat berpengaruh, dengan judul Tata Bahasa Baru Bahasa Indonesia, sarjana ini awalnya membahas secara terperinci seluruh kelas kata yang lazim dalam tata bahasa bahasa-bahasa Eropa, kemudian ia menyarankan pembagian atas enam kelas, yaitu:

  1.  Kata benda atau substantive (termasuk di dalamnya pronomina)
  2. Kata kerja atau verba
  3. Kata keadaan atau ajektiva (termasuk di dalamnya numeralia dan adverbia)
  4. Kata sambung atau konjungsi (termasuk di dalamnya preposisi)
  5. Kata sandang atau partikel
  6. Kata seru atau interjeksi.

Dalam kategori gramatikal sering dibedakan kategori primer, yakni kelas kata, dan kategori sekunder, yakni modus, kala, aspek, diatesis, jumlah, dan kasus. Secara konkret kategori sekunder sering muncul dalam kelas kata. Dalam laporan ini hanya akan dibahas kategori primer atau kelas kata saja, khususnya kata sandang (artikula/partikel)

 

 

  1. 2.      RUMUSAN MASALAH

Dalam laporan ini akan dibahas antara lain mengenai:

  1. Apakah kata sandang (artikula/partikel) itu?
  2. Apa saja jenis-jenis kata sandang itu?
  3. Apa saja fungsi artikula itu?

 

  1. 3.      TUJUAN PENELITIAN

Tujuan suatu penelitian harus disampaikan secara jelas, mengingat penelitian harus mempunyai sasaran arah yang jelas dan tepat. Adapun tujuan penelitian ini ialah untuk menjelaskan mengenai artikula. Mulai dari pengertian kata sandang atau artikula, jenis-jenis kata sandang atau artikula, apa saja fungsi artikula atau kata sandang tersebut sampai pada bagaimana penggunaan kata sandang atau artikula.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

ISI

  1. 1.      PENGERTIAN ARTIKULA

 

  1. Artikula adalah adalah kata tugas yang membatasi makna nomina. (Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia edisi ketiga. 2003)
  2. Artikula dalam bahasa Indonesia adalah kategori yang mendampingi nomina dasar (misalnya si kancil, sang dewa, para pelajar), nomina deverbal (misalnya si terdakwa, si tertuduh), pronominal (misalnya si dia, sang aku), dan verba pasif (misalnya kaum tertindas, si tertindas) dalam eksosentris yang berkategori nomina. Artikula berupa partikel jadi tidak dapat berafiksasi. (Harimurti Kridaleksana. 1994: 94)

Dari dua pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan artikula adalah jenis kata yang tidak dapat berafiksasi yang bertugas untuk membatasi atau mendampingi makna nomina, seperti nomina dasar, misalnya si kancil, nomina deverbal, misalnya si terdakwa, pronominal, misalnya si dia, dan verba pasif, misalnya kaum tertindas, dalam konstruksi eksosentris yang berkategori nominal.

  1. 2.      JENIS-JENIS KATA SANDANG (ARTIKULA)

 

Dalam bahasa Indonesia ada tiga jenis atau kelompok artikula, yaitu:

 

  1. Artikula yang bersifat gelar

Artikula ini bertugas untuk mengkhususkan nomina singularis, jadi bermakna spesifikasi. Artikula yang demikian antara lain:

1)      Sang

 

Digunakan untuk manusia atau benda unik dengan maksud untuk meninggikan harkat dan martabat kata yang didampinginya, biasanya bergabung dengan nomina, baik persona, satwa, maupun benda dan menyatakan personifikasi. Sang juga dapat menyatakan maksud mengejek atau menghormati, kadang-kadang juga dipakai dalam gurauan atau sindiran.

Contoh:            a) Sang Merah Putih berkibar dengan jaya di seluruh tanah air.

b) Pagi ini sang mentari menampakkan diri dengan senyum terindahnya.

 

2)      Sri

Digunakan untuk menkhususkan orang yang sangat dihormati, misalnya seseorang yang memiliki martabat tinggi dalam keagamaan atau kerajaan.

Contoh: a) Bulan depan Sri Paus dijadwalkan akan berkunjung ke Amerika.

b) Kedatangan Sri Baginda disambut dengan meriah oleh seluruh rakyat.

3)    Hang

Digunakan untuk laki-laki yang dihormati, dan pemakaiannya terbatas pada nama tokoh dalam cerita sastra lama.

Contoh: Segera Hang Tuah pergi merantau.

4)      Dang

Digunakan untuk wanita yang dihormati, pemakaiannya terbatas pada nama tokoh dalam cerita sastra lama.

Contoh: Dang Merdu adalah nama tokoh terkenal dalam hikayat sastra Melayu.

  1. Artikula yang mengacu kemakna kelompok

Artikula ini bertugas untuk mengkhususkan makna kelompok atau mengacu kemakna kolektif. Artikula ini mengisyaratkan ketaktunggalan, jadi penulisannomina yang diiringinya tidak dinyatakan dalam bentuk kata ulang. Artikula yang demikian antara lain:

1)      Para

Digunakan untuk mengkhususkan atau menegaskan makna kelompok bagi manusia yang memiliki kesamaan sifat tertentu, khususnya yang berkaitan dengan pekerjaan atau kedudukkan.

Contoh: Para guru hari ini akan mengadakan rapat.

2)      Kaum

Digunakan untuk mengkhususkan kelompok yang berideologi sama.

 

Contoh: Bagi kaum wanita yang beragama islam diwajibkan untuk menutup auratnya.

 

3)      Umat

Digunakan untuk mengkhususkan kelompok yang memiliki latar belakang agama yang sama, atau yang memilki konotasi keagamaan.

Contoh: Umat islam merayakan hari raya idul fitri setiap tanggal 1 syawal.

 

  1. Artikula yang menominalkan

Disamping artikula yang menyatakan gelar dan kelompok, ada pula artikula yang menominalkan. Artikula yang demikian antara lain:

1)      Si

Artikula si yang menominalkan dapat mengacu kemakna tunggal atau generic, bergantung pada konteks kalimatnya. Misalnya frasa si miskin dalam kalimat Tak sampai hatiku melihat si miskin mengambil makanan dari tumpukan sampah, mengacu pada satu orang yang kebetulan miskin. Akan tetapi, dalam kalimat Dalam masa krisis si mskinlah yang selalu menderita, frasa si miskin mengacu ke pengertian generic (umum), yakni kaum miskin di dunia ini.

Artikula si dipakai untuk mengiringi nama orang, membentuk nomina dari ajektiva atau verba, dan dalam bahasa yang tidak formal untuk mengiringi pronomina dia. Berikut adalah contoh pemakaiannya.

a)      Si Amat akan meminang si Halimah minggu depan.

b)      Aduh, cantiknya si hitam manis ini.

c)      Si terdakwa tidak dapat menjawab pertanyaan hakim.

d)      Mengapa si dia tidak kamu ajak.

Selain itu, artikula si juga dipakai untuk menunjukkan perasaan negative pembicara mengenai orang yang dirujuknya. Apabila orang tidak suka pada orang lain misalnya Joko, maka kalimat Ini gara-gara si Joko dimaksudkan untuk menunjukkan rasa tidak suka pembicara terhadap Joko.

Berikut adalah ikhtisar pemakaian artikula si:

  1. Di depan nama seseorang (diri) pada ragam akrab atau kurang hormat: si Ali, si Lia, si Rio;
  2. Di depan katauntuk mengkhususkan orang yang melakukan sesuatuatau terkena sesuatu: si pengirim, si alamat, si tertuduh;
  3. Di depan nomina untuk dipakai sebagai timangan, panggilan, atau ejekan; yang disebut itu mempunyai sifat atau mirip sesuatu: si belang, si bungsu, si kumis.
  4. Dalam bentuk verba yang menandakan dirinya menjadi bersifat tertentu: bersitegang, bersikukuh, bersikeras.
  5. Pada berbagai nama tumbuhan dan binatang: si busuk, siangit, simalakama, siamang, sigasir.

 

2)      Yang

Kata yang berfungsi ganda dalam sintaksis. Sebagai artikula, yang membentuk frasa nominal (yang terhormat, yang berkepentingan, yang hadir) dari verba, adjektiva, atau kelas kata lain, yang bersifat takrif atau definit. Sifat yang sama akan mncul jika yang mengantarai nomina dengan pewatasnya. Disamping itu, kata yang menjadi pengantar klausa relatif. Berikut ini beberapa contoh penggunaan artikula yang:

  1. a)  Bu Marni bekerja di perusahaan swasta.

b)  Bu Marni bekerja di perusahaan yang swasta.

2.   a)  Santi membeli pakaian mahal.

b)  Santi membeli pakaian yang mahal.

Frasa perusahaan swasta pada (1a) dan pakaian mahal pada (2a) memiliki sifat tak definit, sedangkan perusahaan yang swasta pada (1b) dan pakaian yang mahal pada (2b) memiliki sifat definit.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.     SIMPULAN

Dari berbagai uraian mengenai kata sandang atau artikula diatas, dapat disimpulkan kata sandang atau artikula adalah jenis kata yang tidak dapat berafiksasi, yang bertugas untuk mendampingi atau membatasi makna nomina, seperti nomina dasar, misanya si kancil, nomina deverbal, misalnya si terdakwa, pronominal, misalnya si dia, dan verba pasif, misalnya si tertindas, dalam konstruksi eksosentris yang berkategori nominal.

Dalam bahasa Indonesia ada tiga jenis atau kelompok artikula: (1) yang bersifat gelar (sang, sri, hang, dang), (2) yang mengacu kemakna kelompok (para, kaum, umat), dan (3) yang menominalkan (si, yang).

Adapun fungsi artikula ialah bergantung pada jenis artikula itu sendiri, seperti sang berfungsi untuk meninggikan harkat dan martabat seseorang atau benda yang unik. Para berfunsi untuk mengisyaratkan ketaktunggalan.

Pemakaian kata sandang yang bersifat gelar untuk mengiringi atau mendampingi kata lain yang jarang sekali, membuatnya kurang begitu dipahami. Pemakaian kata sandang yang sering kita jumpai adalah pada jenis kata sandang yang menominalkan, yaitu jenis kata si dan kata sandang yang mengacu ke makna kelompok, yaitu para, kaum, umat. Jenis kata sandang yang bersifat gelar, yaitu sang, sri, hang, dan dang lebih sukar kita jumpai. Hal ini dikarenakan pemakaian pemakaian kata sandang yang bersifat gelar hanya terbatas pada hal tertentu saja, seperti pada nama tokoh cerita sastra lama (hang dan dang).

 

 

 

 

 

  1. B.     SARAN

Kata sandang seharusnya lebih sering digunakan agar perannya dalam bahasa, terutama bahasa Indonesia tidak punah. Penulisan sastra (terutama cerpen dan novel) dengan latar belakang  rumpun Melayu sebaiknya lebih diberdayakan agar kata sandang yang bersifat gelar (sang, dang) lebih sering digunakan dan kita jumpai. Selain itu, karena nenek moyang kita adalah dari rumpun melayu, jadai tidak ada salahnya apabila kita menulis cerita dengan latar belakang zaman dulu. Dengan demikian kita juga akan lebih mengenal nenek moyang kita sendiri, dan kita bisa mencotohnya, agar moral generasi penerus bangsa yang yang semakin rusak bisa diperbaiki. Kita semua tahu bahwa kita adalah orang timur yang selalu menjunjung tinggi nilai moralitas terutama nenek moyang kita. Kita juga tahu sastra adalah bagin dari bahasa, begitu juga sebaliknya, keduanya tidak dapat dipisahkan. Dengan memperkenalkan bahasa melalui sastra tentu kita akan memperoleh banyak keuntungan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Alwi, Hans dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Pustaka.

Kriddaleksana, Harimurti. 1994. Kelas Kata Dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s